BAB I

PENDAHULUAN

Perlu kita ketahui bahwa tegak runtuhnya suatu Negara, maju mundurnya suatu peradaban manusia serta timbul tenggelamnya bangsa tergantung pada baik buruknya etika atau religiusisme yang dimilik masyarakat.. Oleh karena itu, perlu kita ketahui mengenai religiusisme alam dunia administrsi maupun di masyarakat pada umumnya.


BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Religiusisme

Religi berasal dari kata religie (bahasa Belanda) atau religion (bahasa Inggris), masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia dibawa oleh orang-orang Barat yang menjajah bangsa Indonesia. Sedangkan isme dapat diartikan sebagai paham. Religiusisme mempunyai pengertian sebagai paham atau keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang suci, menentukan jalan hidup dan mempengaruhi kehidupan manusia yang dihadapi secara hati-hati dan diikuti jalan dan aturan serta norma-normanya dengan ketat agar tidak sampai menyimpang atau lepas dari kehendak jalan yang telah ditetapkan oleh kekuatan gaib suci tersebut.

(Muhaimin Dkk, 2005: 29).

  1. B. Macam-macam Agama menurut Immanuel Kant

Menurut Immanuel Kant agama terdiri dari:

  1. 1. Agama Kodrati (Kepercayaan Moral)

Agama di sini biasanya disebut dengan agama murni. Agama kodrati merupakan substratum bagi semua agama dan dasar kuat bagi kaidah moral. Di sini tidak ada tempat bagi ilmu pengetahuan yang ada, hanya usaha moral untuk mencegah terjadinya kesalahan.

  1. Agama yang diwahyukan

Agama yang diwahyukan merupakan hasil tindakan dan fikiran moral dalam pengalaman umat manusia. Agama moral adalah agama yang paling dasariah dan inti dari agama yang diwahyukan.

(Uli Tjahjadi, 1991:60)

C.     Urgensi Beragama

Secara kodrati manusia menyadari bahwa di luar dirinya ada kekuatan yang maha dahsyat. Dimana manusia dan alam sekitarnya tidak akan mampu menandingi kekuatan itu. Pengakuan seperti inilah yang disebut dengan beragama.

Tidak dapat dibayangkan jika manusia tidak mengenal agama sama sekali. Sama artinya dia tidak akan menemu kebahagian dan kedamaian hidup, tidak ada aturan dan norma yang membatasi tingkah lakunya. Niscaya sulit untuk dibedakan dengan hewan.

Kesimpulannya adalah manusia beragama karena memerlukan sesuatu dari agama itu. Manusia memerlukan petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dengan agama manusia mendapatkan nilai-nilai moral yang universal dan hal-hal yang tak dapat dicapainya dengan akal.

Seorang yang religius adalah bahwa mereka akan menjalankan amanat mereka dengan cara-cara Tuhan yaitu: kejujuran, kerendahan hati, ataupun keadilan.

D.     Gambaran Manusia Beragama (Ekspresi Religius)

Gambaran pokok Manusia Beragama (Ekspresi Religius) adalah penyerahan diri. Ia tunduk lagi patuh dengan rasa hormat dan khidmat Di sini dia merdeka, bukan bearti bebas dan merdeka untuk berbuat  segala sesuatu sesuai dengan yang dia inginkan. Dia tidak bias berbuat lain karena dia yakin bahwa berbuat lain adalah suatu pelanggaran yang berakibat akan membinasakan dirinya. Di sinilah dia menemukan rasa tenteram dan bahagia.

Pengalaman manusia beragama dalam menjalankan aturan yang ada akan mengintegrasikan hidupnya, sehinga hidupnya menjadi tujuan dan bermakna.

(Suroyo, M.A dkk, 2002:2)

E.     Hubungan Etika dengan Religiusisme

Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya fikirannya untuk memecahkan masalah bagaimana dia harus hidup kalau dia mau menjadi baik. Akal budi itu diciptakan Allah dan tentu diberikan kepada kita untuk digunakan dalam semua dimensi kehidupan. Wahyu tidak berarti bahwa daya fakir kita dapat dicutikan dari orang. Beragama diharapkan agar mempergunakan anugrah sang pencipta ini.

Jangan sampai akal budi dikesampingkan dari bidang alam. Itulah sebabnya mengapa justru kaum beragama diharapkan betul-betul memakai rasio dan metode-metode etika.

(Frans Magnis Suswno, 1989:17)

Agama dapat dikatakan sebagai penghubung antara etika dan kesempurnaan agar manusia menemukan dirinya. Agama tidak terlepas dari etika dan kesempurnaannya. Kurang pada tempatnya apabila agama ditujukan kepada kesempurnaan dari Social Konduct kepada individual conduct.

(Widjaja,A.W, 1994:67)

Jadi, Meskipun sudah ada agama tetapi masih diperlukan  etika karena etika tidak bertentangan dengan agama akan tetapi etika juga tidak dapat menggantikan agama.


BAB III

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Religiusisme merupakan paham atau keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang suci, menentukan jalan hidup dan mempengaruhi kehidupan manusia yang dihadapi secara hati-hati dan diikuti jalan dan aturan serta norma-normanya dengan ketat agar tidak sampai menyimpang atau lepas dari kehendak jalan yang telah ditetapkan oleh kekuatan gaib suci tersebut.

Manusia beragama karena memerlukan sesuatu dari agama itu. Manusia memerlukan petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dengan agama manusia mendapatkan nilai-nilai moral yang universal dan hal-hal yang tak dapat dicapainya dengan akal.

Manusia yang beragama Ia akan  tunduk lagi patuh dengan rasa hormat dan khidmat Di sini dia merdeka, bukan bearti bebas dan merdeka untuk berbuat  segala sesuatu sesuai dengan yang dia inginkan, sehingga perlu adanya aturan dan untuk melaksanakannya diperlukan etika. Meskipun sudah ada agama tetapi masih diperlukan  etika karena etika tidak bertentangan dengan agama akan tetapi etika juga tidak dapat menggantikan agama.